Oleh: alzadi | 11 Juli 2008

KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN

Oleh: Almuntaqo Zainuddin

Kisah atau cerita adalah fenomena universal dalam semua kitab suci agama, termasuk juga al-Quran, yang kita yakini sebagai kalam Allah dan menjadi petunjuk bagi manusia. Banyak kisah-kisah yang terkandung dalam al-Quran. Kisah-kisah tersebut tidak hanya seputar kehidupan Nabi saja, tetapi lebih jauh lagi, sejak alam semesta ini belum diciptakan sampai akhir dari kehidupan, yaitu hari pembalasan.

Besar dan beragamnya kandungan kisah-kisah tersebut, pastilah muncul sederet pertanyaan dalam benak kita, Mengapa al-Quran memuat kisah-kisah peristiwa masa lalu? Apa sebenarnya tujuan dari dimuatnya kisah-kisah tersebut? Apa saja varian dan karakterisik dari kisah-kisah tersebut? Apakah dengan cerita-cerita itu al-Quran mem­posisikan dirinya dalam bagian dari kitab-kitab sejarah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan penulis paparkan secara komprehensif, sesuai dengan kemampuan penulis. Karenanya penulis menerima masukan untuk menyempurnakan tulisan ini, sekaligus memperkaya wawasan kita bersama.

A. Pengertian Kisah Dalam al-Quran

Secara etimologis, kata kisah berasal dari kata bahasa Arab atau al-Qishshatu (القصّة) -jamaknya al-qhishashu- atau al-qashashu (القصص) yang berarti cerita atau hikayat. [Munawwir, 1997:1126]. Seperti dalam surat Yusuf (12) ayat 111 لقد كان لهم في قصصهم عبرة لأولى الألباب (sesungguhnya pada berita mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal). Sementara itu, menurut al-Layts, “al-qashsh” berarti mengikuti jejak. Kata al-qashash adalah bentuk masdar, seperti tersebut dalam surat al-Kahfi (18) ayat 68, فارتدّ أثرهما قصصا, “Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula”.

Adapun secara terminologis, kisah berarti berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling berturut-turut. Qashash al-Quran adalah pemberitaan al-Quran mengenai hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. [Chirzin, 2003:118]

B. Macam-macam Kisah dalam al-Quran

Bila kita klasifikasikan menurut materinya, kisah-kisah dalam al-Quran terbagi tiga macam. [Chirzin, 2003:119]. Pertama, kisah para Nabi terdahulu. Kisah ini mengandung informasi mengenai dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akbat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Isa.

Kedua, kisah-kisah menyangkut pribadi-pribadi dan golongan-golongan dengan segala kejadiannya yang dinukil oleh Allah untuk dijadikan pelajaran, seperti kisah Maryam, Lukman, Dzulqarnain, Qarun dan Ashabul Kahfi.

Ketiga, kisah-kisah menyangkut peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah Saw. seperti perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab, Bani Quraizah, Bani Nadzir dan Zaid bin Haritsah dan Abu Lahab.

Adapun M.A. Khalafullah [2002:101-145], dengan mengguna­kan pendekatan sastra, mengelompokkannya kisah-kisah al-Quran tersebut dalam tiga model,[1] yaitu:

1. Model Sejarah, yaitu suatu kisah yang menceritakan tokoh-tokoh sejarah tertentu seperti para nabi dan rasul dan beberapa kisah yang diyakini orang-orang terdahulu sebagai sebuah realitas sejarah.

2. Model Perumpamaan, yaitu kisah-kisah yang menurut orang-orang terdahulu, kejadiannya dimaksudkan untuk menerangkan dan menjelaskan suatu hal atau nilai-nilai. Maka, model kisah ini pun tidak mengharuskan kisah yang diangkat dari sebuah realitas sejarah dan boleh berupa cerita-cerita fiktif dalam batasan orang-orang terdahulu.

Dalam permisalan terdapat dua ciri: Pertama, permisalan biasa­nya disebutkan setelah makna-maknanya diberitahukan terlebih dahulu. Dalam konteks ini, fungsi permisalan adalah untuk me­nguat­kan makna-makna tersebut[2] Kedua, makna-makna per­misalan kadangkala tersembunyi atau terisyaratkan dari deskripsi permisalan itu sendiri, artinya maknanya tidak disebutkan secara langsung.[3] [Khalafullah: 130-131]

3. Model Legenda atau Mitos, yaitu kisah yang diambil dari mitos-mitos yang dikenal dan berlaku dalam sebuah komunitas sosial. Biasanya tujuan dari kisah mitos semacam ini adalah untuk memperkuat satu tujuan pemikiran atau untuk menafsirkan suatu problem pemikiran. Perlu diketahui, unsur mitos dalam kisah ini bukan sebagai tujuan kisah, tapi berfungsi sebagai salah satu instrumen kisah untuk menarik pendengarnya.[4]

C. Karakteristik Kisah-kisah dalam Al-Quran

Dalam menceritakan suatu kejadian dan peristiwa-peristiwa, Al-Quran tidak menguraikannya secara berurutan dan tidak pula memaparkan kisah-kisah itu secara panjang lebar. Al-Quran juga mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam al-Quran dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di satu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di tempat lain diakhirkan. Al-Quran juga sering dengan sengaja menyamarkan waktu dan tempat, serta keistimewaan para pelakunya. Hal ini menimbulkan perdebatan di kalangan orang-orang yang meyakini dan orang-orang yang meragukan al-Quran.

Bila ditelisik lebih lanjut, kisah-kisah al-Quran tersebut memiliki fenomena tersendiri dan menjadi karakter al-Quran dalam penceritaan kisah-kisahnya, [Khalafullah, 2002:45-47], yaitu: Pertama, al-Quran selalu mengesampingkan unsur-unsur penting sebuah peristiwa sejarah. Maka sering kita temukan dalam kisah-kisahnya, al-Quran tidak menyebutkan waktu, tempat dan pelaku peritiwa. Bahkan kita tidak menemukan satu pun dalam kisah tersebut waktu kejadian peristiwa disebut dengan pasti.

Kedua, al-Quran sering menonjolkan beberapa potong saja dari suatu peristiwa dan tidak mencerikannya dengan tuntas. Misalnya ketika menceritakan suatu kejadian yang menimpa orang-orang atau kaum tertentu hanya diceritakan bagian tertentu saja yang dinilai dapat berfungsi sebagai mediator penyampaian pesan khusus yang menjadi tujuan utama diceritakannya kejadian tersebut.

Ketiga, dalam menceritakan sebuah kisah, al-Quran sering tidak memperhatikan urutan waktu dan tempat. Tidak jarang urutan waktu dan tempatnya sangat kontroversial. Seperti tentang kisah Luth dalam QS. Al-Hijr (15):61-73. Bandingkan dengan QS. Hud (11): 70-80.

Keempat, al-Quran sering menceritakan satu kisah dalam dua versi pendeskripsian. Di satu tempat, kisah-kisah tersebut disandar­kan kepada para lelaku tertentu, namun di tempat lain pelaku-pelaku tersebut diganti dengan pelaku-pelaku baru. Contohnya dalam firman Allah tentang redaksi “sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai” yang diucapkan para penyihir Fir’aun dan Firaun sendiri dalam surat al-A’raf (7):109 dan QS. Asy-Syu’ara (26):34.

Kelima, dalam kisah-kisah al-Quran yang diulang, sering dijumpai karakteristik atau kondisi jiwa pwlakunya berbeda, padahal masih dalam satu kejadian yang sama. Misalnya, ketika al-Quran menggambarkan sikap Tuhan kepada Musa ketika Musa melihat api dalam QS. Al-Naml (27):8, bandingkan dengan QS. al-Qashash (28):30; dan QS. Thaha (20):11-12.

Keenam, kisah-kisah al-Quran sering menceritakan kejadian-kejadian yang tidak pernah terjadi. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah, “dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasulullah” (QS. al-Nisa’ (4):157) dan “Dan ingatlah ketiak Allah berfirman, ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia; ‘jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ (QS. al-Maidah (5):116).

Karena memiliki ‘kekhasan’ dalam penceritaan tersebut, maka banyak yang mempertanyakan, mengapa kisah-kisah tersebut tidak tersusun secara kronologis dan sistematis, sehingga lebih mudah dipahami. Karena itu pengulangan kisah-kisah dalam al-Quran semacam itu mereka pandang kurang efektif dan efisien.

Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan bahwa penyajian kisah-kisah dalam al-Quran begitu rupa mengandung beberapa hikmah. Diantaranya: Pertama, menjelaskan balaghah al-Quran dalam tingkat paling tinggi. Kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwa­nya makna-makna baru yant tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.

Kedua, menunjukkan kehebatan al-Quran. Sebab, menge­mukakan seseuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa al-Quran itu datang dari Allah.

Ketiga, mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian al-Quran terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini meng­gambarkan pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan.

Keempat, penyajian seperti itu menunjukkan perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu diungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah di­perlukan, sedangkan makna-makna laonnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan. [Chirzin, 1998:119].

D. Maksud dan Tujuan Kisah-kisah Al-Quran

Pemuatan kisah-kisah dalam al-Quran bukanlah hanya sekedar gubahan yang hanya bernilai sastra saja, baik gaya bahasa maupun cara menggambarkan peristiwa-peristiwanya, seperti karya-karya sastra umumnya. Al-Quran adalah hudan, petunjuk dan pedoman hidup, tentunya setiap teks yang dikandung memiliki makna, nilai dan tujuan universal lagi visioner, bukannya temporer dan lokal.

Karena faktor ini maka sebagian penafsir ada yang membedakan antara kisah (materi cerita dan susunanya) dengan pesan-pesan moral yang dikandung nya, karena menurut mereka, materi sebuah kisah bukan tujuan dari kisah. Akan tetapi tujuan dari pengisahan dalam al-Quran adalah menjelaskan pesan-pesan moral, sosial dan agama yang tersirat dari kisah tersebut.[5]

Sayyid Qutb [Chirzin, 1998:121], merinci tujuan dari kisah-kisah al-Quran tersebut secara umum. Menurutnya, Pertama, salah satu tujuan cerita itu ialah menetapkan adanya wahyu dan kerasulan. Dalam al-Quran tujuan ini diterangkan dengan jelas di antaranya dalam QS. Yusuf (12):2-3 dan QS. al-Qhashash (28):3.

Kedua, menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah, dari masa Nabi Nuh sampai dengan masa Nabi Muhammad Saw., bahwa kaum Muslimin semuanya merupakan satu ummat; bahwa Allah yang Maha Esa adalah Tuhan bagi semuanya. (QS. al-Anbiyaa’ (21):51-91.)

Ketiga, menerangkan bahwa agama itu semua dasarnya satu dan itu semuanya dari Tuhan yang Maha Esa. (QS. al-A’raf (7):59).

Keempat, menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kam mereka terhadap dakwahnya itu serupa, seperti dalam surat Hud.

Kelima, menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dengan agama Nabi Ibrahim secara khusus dengan agama-agama bangsa-bangsa Israil pada umumnya dan menerangkan bahwa hubungan ini lebih erat daripada hubungan yang umum antara semua agama. Keterangan ini berulang-ulang disebutkan dalam cerita Nabi Ibrahim, Musa dan Isa.

Sedangkan khalafullah [2002:162] mengatakan bahwa, Pertama, tujuan utama dan terpenting dari kisah dalam al-Quran adalah meringankan beban jiwa atau tekanan jiwa para nabi dan orang-orang beriman.[6] Kedua, Sebuah atau sekumpulan kisah di­tujukan pula untuk menguatkan keimanan dan keyakinan jiwa terhadap akidah Islam dan mengobarkan semangat berkorban baik jiwa maupun raga di jalan Allah swt. Dengan kata lain kisah juga dimaksudkan untuk membentuk sebuah jiwa yang militan. [Khalafullah, 2002:165]. Ketiga, Menumbuhkan kepercayaan diri dan ketenteraman atau menghilangkan ketakutan dan kegelisan,[7] dan Keempat, untuk membuktikan kerasulan Muhammad dan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Dalam hal ini kisah menjadi bagian dari i’jaz al-Quran. Seperti kisah tentang pemberitaan gaib tentang masa lampau dan masa datang yang terbukti. [Shihab, 1997:193-220]

E. Kesimpulan

Pemuatan kisah-kisah dari peristiwa-peristiwa masa lalu me­rupakan keniscayaan bagi al-Quran. Kisah-kisah yang dikandung­pun beragam dan memiliki karakteristik sendiri, seperti tidak tersis­tematisasi sesuai kronologi peristiwa, terjadi pengulangan di banyak tempat dengan redaksi yang sering berbeda.

Ini terjadi karena al-Quran menempatkan dirinya bukan se­bagai kitab sejarah -walaupun memuat peristiwa-peristiwa sejarah, tetapi sebagai al-huda, petunjuk bagi seluruh manusia.

Sebagian dari kisah-kisah al-Quran itu pernah terjadi, sehingga pada perkembangan tafsir selanjutnya, para mufassir banyak meng­gunakan pendekatan historis untuk mengungkap kebenaran kisah-kisah tersebut. Semangat ini menyebabkan tafsir kisah-kisah pada masa tabi’ien dipenuhi dengan cerita-cerita israiliyat.

Oleh karenanya, Khalafullah mengkritik tafsir kisah-kisah dalam al-Quran dengan pendekatan historis, karena kisah-kisah tersebut bukan tujuan utama al-Quran, lagi pula al-Quran bukanlah teks-teks sejarah. Ia menawarkan metodologi sastra yang digunakan untuk menangkap pesan-pesan dari kisah-kisah al-Quran yang memiliki keindahan dan keistimewaan tersendiri.

Kedua pendekatan tersebut masing-masing memiliki keistimewaan sendiri. Pendekatan historis terhadap kisah-kisah sejarah dalam al-Quran akan bermuara pada penemuan kebenaran dari kisah-kisah tersebut, yang akan bagian dalam kajian tafsir lain, yaitu I’jaz al-Quran. Sedangkan pendekatan sastra akan membawa pada pemahaman terhadap semangat dari sebuah kisah al-Quran, sekaligus keindahan sastra yang terkandung dalam matan kisah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. 1992. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran /Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang

Chirzin, Muhammad. 1998, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.

Khalafullah, Muhammad A. 2002. Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah: Seni, Sastra, dan Moralitas dalam Kisah-kisah al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Shihab, M. Quraish. 1997. Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib. Bandung: Mizan.

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Kamus Al-Munawwir.Surabaya: Pustaka Progressif.


[1] Pembagian dalam 3 model ini disesuasikan dengan pembagian yang berlaku di dunia sastra.

[2] Seperti pada kisah dua malaikat yang mendatangi Nabi Daud, kisah Ummat Nabi Isa yang meminta hidangan dari langit (QS. 5:112-115), dan lain sebagainya.

[3] Seperti kisah dialog Allah dengan neraka Jahannam dalam surat Qaaf (30) ayat 30, yang bunyinya يوم نقول لجهنم هل امتلأت وتقول هل من مزيد “(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahanam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab, ‘Masih adakah tambahan?’)”.

[4] Al-Quran banyak sekali memuat kata-kata dongeng (mitos), khususnya tuduhan orang-orang musyrik Mekkah. Al-Quran tidak membantah adanya unsur-unsur tersebut tersebut dalam dirinya. Hanya satu ayat yang berisi sanggahan tidak langsung, yaitu dalam surat al-Furqaan (25): 5-6 (وقالوا أساطير الأولين اكتتبها فهي تملى عليه بكرة وأصيلا، قل أنزله الذي يعلم السر في السموات والأرض إنه كان غفورا رحيما). Sesungguhnya yang diingkari al-Quran adalah bila keberadaan mitos-mitos tersebut dijadikan bukti akan kebenaran al-Quran sebagai karya Muhammad Saw dan tidak diturunkan dari langit. Perhatikan al-Quran surat al-Baqarah (2): 259-260. Para orientalis juga menyatakan kisah ashabu al-kahf atau kisah Musa di surat al-Kahfi adalah kisah mitos.

[5] Karena karakteristik kisah-kisah dalam al-Quran yang sepotong-sepotong dan tidak lengkap, maka banyak mufassir yang mencoba mencari lewat kisah-kidah dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, maka muncullah term israiliyat dan nashraniyat dalam kajian tafsir (lih. Ash-Shiddieqy, 1992:223).

[6] Lihat surat Huud: 120 “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang beriman”.

[7] Lihat surat Huud: 89, surat al-Qamar: 9-32.


Tanggapan

  1. no coment, soale aku gak mudeng

  2. Mengenai anggapan-anggapan bahwa dalam Al-Quran terdapat unsur-unsur kisah yang bersifat mitos, maka dapat dikatakan :
    Pertama, pernyataan di atas telah menyelisihi ijma’ kaum muslimin bahwa kisah dalam Al-Quran adalah hakiki dan benar-benar terjadi.
    Kedua, tidak syak lagi bahwa di antara tujuan kisah adalah ibrah. Terkadang seseorang bercerita dari khayalannya, namun kasha tersebut tentunya tidak sempurna. Bila seseorang menyampaikan sebuah kisah nyata, maka itu merupakan sebuah kesempurnaan. Sedangkan, Al-Quran memuat kesempurnaan, sebagaimana yang difirman oleh Allah, “Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf : 3). Kisah yang paling baik adalah kisah yang tidak dusta.

    Ketiga, bisa saja Allah Ta’ala membuat kisah-kisah yang berbau mitos yang lebih dahsyat dari apa yang tertera dalam Al-Quran untuk menarik orang-orang Arab yang mengalami turunnya wahyu. Namun, Allah Maha Tahu siapa saja yang akan mengimani Al-Quran ini dari kalangan selain bangsa Arab. Berapa perbandingan bangsa Arab dengan orang-orang yang masuk Islam selain dari mereka? Bagaimana mungkin Allah menggunakan mitos-mitos seperti yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah, padahal Dia Maha Mampu untuk mewujudkannya dengan kisah yang lebih baik darinya?
    Keempat, para ulama banyak yang mengambil istinbath hukum dari kisah-kisah Al-Quran, seperti bolehnya mahar berupa melakukan sebuah pekerjaan. Menganggap kisah-kisah dalam Al-Quran sebagai sebuah mitos, maka hal ini akan menggugurkan banyak hukum. Sebab, tidak bisa mengambil sebuah hukum dari sesuatu yang tidak nyata adanya.
    Kelima, anggapan bahwa Al-Quran menagandung unsur kisah mitos, maka hal ini akan membinggungkan manusia. Sebab, hal ini akan memunculkan keragu-raguan dan akan menghalang-halangi manusia untuk masuk Islam, lantaran ada sesuatu dalam Al-Quran yang tidak sesuai dengan realita.
    Keenam, hal ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fush-shilat : 41-42). Firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah: “Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan : 44-46). Firman Allah Ta’ala, “Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya”. Sebenarnya Al Qur’an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (As-Sajadah : 1-3), dan ayat-ayat yang lain yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah sesuatu yang haq.
    Ketujuh, tidakadanya realita sejarah yang sesuai dengan kisah dalam Al-Quran mengandung dua kemungkinan; (1) ketidakadaannya bukti yang menunjukkan kebenaran kisah tersebut dalam dunia nyata, atau (2) realita bertentangan dengan apa yang dikisahkan dalam Al-Quran. Untuk yang pertama, maka tidakadanya bukti yang kita temukan bukan berarti kisah dalam Al-Quran tidak hakiki, sebab ketidaktahuan kita terhadap sesuatu bukan berarti sesuatu tersebut tidak ada. Untuk yang kedua, maka realita yang bertentangan dengan kisah dalam Al-Quran tersebut harus dinukil sama kuatnya seperti Al-Quran untuk dapat kita ambil. Dan, ini mustahil ada. Dengan demikian, kita lebih mengutamakana apa yang terkandung dalam Al-Quran.
    Keenam, anggapan di atas membuka celah keyakinan bahwa dalam Al-Quran terdapat sesuatu yang dusta yang selanjutkan Al-Quran akan ditinggalkan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori