<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN</title>
	<atom:link href="http://alzadi.wordpress.com/2008/07/11/kisah-kisah-dalam-al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alzadi.wordpress.com/2008/07/11/kisah-kisah-dalam-al-quran/</link>
	<description>Sayangilah Orang yang Paling Kau Cintai</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jan 2009 04:22:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Rudi Hartono, Lc.</title>
		<link>http://alzadi.wordpress.com/2008/07/11/kisah-kisah-dalam-al-quran/#comment-5</link>
		<dc:creator>Rudi Hartono, Lc.</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 04:22:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alzadi.wordpress.com/?p=5#comment-5</guid>
		<description>Mengenai anggapan-anggapan bahwa dalam Al-Quran terdapat unsur-unsur kisah yang bersifat mitos, maka dapat dikatakan :
Pertama, pernyataan di atas telah menyelisihi ijma’ kaum muslimin bahwa kisah dalam Al-Quran adalah hakiki dan benar-benar terjadi.  
Kedua, tidak syak lagi bahwa di antara tujuan kisah adalah ibrah. Terkadang seseorang bercerita dari khayalannya, namun kasha tersebut tentunya tidak sempurna. Bila seseorang menyampaikan sebuah kisah nyata, maka itu merupakan sebuah kesempurnaan. Sedangkan, Al-Quran memuat kesempurnaan, sebagaimana yang difirman oleh Allah, “Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur&#039;an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf : 3). Kisah yang paling baik adalah kisah yang tidak dusta.   

Ketiga, bisa saja Allah Ta&#039;ala membuat kisah-kisah yang berbau mitos yang lebih dahsyat dari apa yang tertera dalam Al-Quran untuk menarik orang-orang Arab yang mengalami turunnya wahyu. Namun, Allah Maha Tahu siapa saja yang akan mengimani Al-Quran ini dari kalangan selain bangsa Arab. Berapa perbandingan bangsa Arab dengan orang-orang yang masuk Islam selain dari mereka? Bagaimana mungkin Allah menggunakan mitos-mitos seperti yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah, padahal Dia Maha Mampu untuk mewujudkannya dengan kisah yang lebih baik darinya? 
Keempat, para ulama banyak yang mengambil istinbath hukum dari kisah-kisah Al-Quran, seperti bolehnya mahar berupa melakukan sebuah pekerjaan.  Menganggap kisah-kisah dalam Al-Quran sebagai sebuah mitos, maka hal ini akan menggugurkan banyak hukum. Sebab, tidak bisa mengambil sebuah hukum dari sesuatu yang tidak nyata adanya.
Kelima, anggapan bahwa Al-Quran menagandung unsur kisah mitos, maka hal ini akan membinggungkan manusia. Sebab, hal ini akan memunculkan keragu-raguan dan akan menghalang-halangi manusia untuk masuk Islam, lantaran ada sesuatu dalam Al-Quran yang tidak sesuai dengan realita.
Keenam, hal ini bertentangan dengan firman Allah Ta&#039;ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur&#039;an ketika Al Qur&#039;an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur&#039;an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur&#039;an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fush-shilat : 41-42). Firman Allah Ta&#039;ala, “Dan orang-orang kafir berkata: &quot;Al Qur&#039;an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain&quot;; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: &quot;Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.&quot; Katakanlah: &quot;Al Qur&#039;an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&quot; (Al-Furqan : 44-46). Firman Allah Ta&#039;ala, “Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur&#039;an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: &quot;Dia Muhammad mengada-adakannya&quot;. Sebenarnya Al Qur&#039;an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (As-Sajadah : 1-3), dan ayat-ayat yang lain yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah sesuatu yang haq. 
Ketujuh, tidakadanya realita sejarah yang sesuai dengan kisah dalam Al-Quran mengandung dua kemungkinan; (1) ketidakadaannya bukti yang menunjukkan kebenaran kisah tersebut dalam dunia nyata, atau (2) realita bertentangan dengan apa yang dikisahkan dalam Al-Quran. Untuk yang pertama, maka tidakadanya bukti yang kita temukan bukan berarti kisah dalam Al-Quran tidak hakiki, sebab ketidaktahuan kita terhadap sesuatu bukan berarti sesuatu tersebut tidak ada. Untuk yang kedua, maka realita yang bertentangan dengan kisah dalam Al-Quran tersebut harus dinukil sama kuatnya seperti Al-Quran untuk dapat kita ambil. Dan, ini mustahil ada. Dengan demikian, kita lebih mengutamakana apa yang terkandung dalam Al-Quran.
Keenam, anggapan di atas membuka celah keyakinan bahwa dalam Al-Quran terdapat sesuatu yang dusta yang selanjutkan Al-Quran akan ditinggalkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengenai anggapan-anggapan bahwa dalam Al-Quran terdapat unsur-unsur kisah yang bersifat mitos, maka dapat dikatakan :<br />
Pertama, pernyataan di atas telah menyelisihi ijma’ kaum muslimin bahwa kisah dalam Al-Quran adalah hakiki dan benar-benar terjadi.<br />
Kedua, tidak syak lagi bahwa di antara tujuan kisah adalah ibrah. Terkadang seseorang bercerita dari khayalannya, namun kasha tersebut tentunya tidak sempurna. Bila seseorang menyampaikan sebuah kisah nyata, maka itu merupakan sebuah kesempurnaan. Sedangkan, Al-Quran memuat kesempurnaan, sebagaimana yang difirman oleh Allah, “Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur&#8217;an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Yusuf : 3). Kisah yang paling baik adalah kisah yang tidak dusta.   </p>
<p>Ketiga, bisa saja Allah Ta&#8217;ala membuat kisah-kisah yang berbau mitos yang lebih dahsyat dari apa yang tertera dalam Al-Quran untuk menarik orang-orang Arab yang mengalami turunnya wahyu. Namun, Allah Maha Tahu siapa saja yang akan mengimani Al-Quran ini dari kalangan selain bangsa Arab. Berapa perbandingan bangsa Arab dengan orang-orang yang masuk Islam selain dari mereka? Bagaimana mungkin Allah menggunakan mitos-mitos seperti yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah, padahal Dia Maha Mampu untuk mewujudkannya dengan kisah yang lebih baik darinya?<br />
Keempat, para ulama banyak yang mengambil istinbath hukum dari kisah-kisah Al-Quran, seperti bolehnya mahar berupa melakukan sebuah pekerjaan.  Menganggap kisah-kisah dalam Al-Quran sebagai sebuah mitos, maka hal ini akan menggugurkan banyak hukum. Sebab, tidak bisa mengambil sebuah hukum dari sesuatu yang tidak nyata adanya.<br />
Kelima, anggapan bahwa Al-Quran menagandung unsur kisah mitos, maka hal ini akan membinggungkan manusia. Sebab, hal ini akan memunculkan keragu-raguan dan akan menghalang-halangi manusia untuk masuk Islam, lantaran ada sesuatu dalam Al-Quran yang tidak sesuai dengan realita.<br />
Keenam, hal ini bertentangan dengan firman Allah Ta&#8217;ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur&#8217;an ketika Al Qur&#8217;an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur&#8217;an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fush-shilat : 41-42). Firman Allah Ta&#8217;ala, “Dan orang-orang kafir berkata: &#8220;Al Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain&#8221;; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: &#8220;Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.&#8221; Katakanlah: &#8220;Al Qur&#8217;an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (Al-Furqan : 44-46). Firman Allah Ta&#8217;ala, “Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur&#8217;an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: &#8220;Dia Muhammad mengada-adakannya&#8221;. Sebenarnya Al Qur&#8217;an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (As-Sajadah : 1-3), dan ayat-ayat yang lain yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah sesuatu yang haq.<br />
Ketujuh, tidakadanya realita sejarah yang sesuai dengan kisah dalam Al-Quran mengandung dua kemungkinan; (1) ketidakadaannya bukti yang menunjukkan kebenaran kisah tersebut dalam dunia nyata, atau (2) realita bertentangan dengan apa yang dikisahkan dalam Al-Quran. Untuk yang pertama, maka tidakadanya bukti yang kita temukan bukan berarti kisah dalam Al-Quran tidak hakiki, sebab ketidaktahuan kita terhadap sesuatu bukan berarti sesuatu tersebut tidak ada. Untuk yang kedua, maka realita yang bertentangan dengan kisah dalam Al-Quran tersebut harus dinukil sama kuatnya seperti Al-Quran untuk dapat kita ambil. Dan, ini mustahil ada. Dengan demikian, kita lebih mengutamakana apa yang terkandung dalam Al-Quran.<br />
Keenam, anggapan di atas membuka celah keyakinan bahwa dalam Al-Quran terdapat sesuatu yang dusta yang selanjutkan Al-Quran akan ditinggalkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dwi</title>
		<link>http://alzadi.wordpress.com/2008/07/11/kisah-kisah-dalam-al-quran/#comment-4</link>
		<dc:creator>dwi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 06:53:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alzadi.wordpress.com/?p=5#comment-4</guid>
		<description>no coment, soale aku gak mudeng</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>no coment, soale aku gak mudeng</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
